Cari Blog Ini

Jumat, 02 Maret 2012

Mereka Hijrah karena Bulutangkis



Lama tak terdengar kabarnya, pelatih ganda putra Indonesia, Atik Jauhari, tiba-tiba muncul di Birmingham Arena, tempat penyelenggaraan turnamen bulu tangkis paling tua di dunia, All England.
Dengan jaket merah bertuliskan “India”, Atik hanya sesekali menyapa pemain Indonesia. Selebihnya, ia lebih sering mengamati para pemain asal India yang tampil di All England. Atik yang pernah melatih pasangan Ricky Subagdja/Rexy Mainaky ternyata sudah menjadi pelatih kepala tim nasional India.
Bagi penggemar bulu tangkis Indonesia, nama Atik tak asing lagi. Ia pernah melatih banyak bintang nasional, mulai dari angkatan Liem Swie King pada era 1970-an, pasangan ternama Ricky Subagdja/Rexy Mainaky, hingga ganda putra Candra Wijaya/Sigit Budiarto, juara ganda putra All England 2003. Karier kepelatihannya yang panjang mengantar Atik, yang kini berusia 59 tahun, menerima pinangan untuk melatih dari sejumlah negara.
Selepas bersama tim Indonesia sejak 1974, tahun 1999 ia melatih di Swedia hingga 2003. “Selesai di Swedia, saya kembali ke Indonesia sampai 2006. Tawaran berikutnya datang dari Thailand, yang saya latih antara 2006 hingga 2008,” kata pria yang kini tinggal bersama istrinya, Neng Titi, di Hyderabad, India, itu.
India yang ingin mengembalikan kejayaan bulu tangkis 1970-an, saat mereka punya pemain tunggal putra legendaris Prakash Padukone, tertarik pada Atik. Lewat proses negosiasi, Atik kini dikontrak selama 2,5 tahun hingga 2010.
Melatih tim negeri orang bukan tanpa tantangan. Atik sudah akrab dengan target. Tahun ini, misalnya, ia dibebani target meraih setidaknya empat medali emas di ajang multievent Commonwealth Games.
Jalan menuju ke sana sudah dirintisnya. Salah satu anak didiknya, Saina Nehwal, kini masuk 10 besar dunia. Di tunggal putra, Atik berusaha meningkatkan kemampuan Anand Chetan yang kini masuk 15 besar dunia.
“Berbeda dengan di Indonesia, yang kebanyakan pemain bulu tangkis berasal dari kalangan menengah ke bawah, pemain-pemain India justru dari menengah ke atas,” kata Atik lagi.
Seusai tersingkir
Lain Atik, lain pula Pi Hongyan. Atlet kelahiran China ini kini bermain untuk negeri mode, Perancis. Ketatnya persaingan pemain di China membuat Pi harus menyingkir. Maklum, ia dianggap terlalu pendek oleh tim pelatih China sehingga tidak layak masuk tim nasional.
“Saya dinilai terlalu kecil,” ujar Pi sebelum bertanding di All England, awal bulan ini. Semangatnya yang membara untuk terus bermain membawa Pi hijrah ke Denmark dan bergabung di salah satu klub di negara tangguh bulu tangkis Eropa itu. Perjalanan hidup membawa Pi membela Perancis sejak 2002 hingga kini, ketika ia menempati peringkat kelima dunia.
Perjuangan Pi di negara yang bulu tangkisnya tak begitu populer membuatnya jatuh bangun tampil di berbagai turnamen. Tidak banyak bantuan fasilitas seperti yang dinikmati pemain China. Tak heran, Pi pun harus minta tolong sukarelawan dadakan untuk menjaga kamera video guna merekam pertandingannya di kota Kinabalu, Malaysia, saat tampil di final Super Series Masters 2008.
Meski sudah bertengger di lima besar tunggal putri dunia, Pi masih punya obsesi ingin menjadi pebulu tangkis Perancis pertama yang menjuarai All England. Harapan itu nyaris terwujud saat ia melaju hingga babak final 2007, melawan Xie Xingfang. Sayang ia harus kalah dari Xingfang.
Tak hanya Pi Hongyan. Ada Xu Huaiwen asal China yang membela Jerman, juga Yao Jie untuk Belanda. Itu belum termasuk pemain China yang bermain untuk Hongkong, yang masih dianggap bagian dari China. Sebut saja Zhou Mi, atlet putri Hongkong, peraih emas tunggal putri Asian Games 2002.
Indonesia juga termasuk negara pengekspor banyak atlet dan pelatih bulu tangkis. Sebut saja Ronald Susilo, pemain tunggal putra Singapura kelahiran Kediri, Jawa Timur, atau Cynthia Tuwanakota, atlet ganda putri Swiss asal Maluku. Selain itu, ada juga Rexy Mainaky, kini pelatih kepala tim bulu tangkis Malaysia, Sigit Budiarto yang melatih di Rusia, dan Eng Hian yang menangani tim Singapura.
Beda benua
Pentas bulu tangkis dunia juga menghubungkan pemain antarnegara tampil bersama. Kisah terkini dicatat mantan atlet ganda Pelatnas Cipayung, Flandy Limpele, yang sejak Januari 2009 berduet dengan atlet putri Rusia, Anastasia Russkikh. Duet “gado-gado” Indonesia-Rusia ini memaksa Flandy, Februari lalu, berlatih di Denmark sebelum tampil di Jerman Terbuka. “Saya berlatih bersama Anastasia di Denmark karena klubnya di Denmark. Latihan seminggu sudah cukup untuk menyesuaikan diri. Ini untuk menebus penampilan di Korea Super Series yang kacau karena kami langsung tampil tanpa latihan dulu,” kata pemain asal Manado itu.
Meski hanya berlatih sepekan, hasilnya lumayan. Flandy/Anastasia mampu melaju hingga semifinal Jerman Terbuka dan All England. Di All England, ganda campuran ini membikin kejutan dengan mengalahkan unggulan pertama asal Indonesia, Nova Widianto/Liliyana Natsir.
Berlatih dengan waktu terbatas karena domisili beda benua juga beberapa tahun dijalani Candra Wijaya, yang selama beberapa tahun berpasangan dengan Tony Gunawan. Tony saat ini sedang kuliah di Orange County, California, sembari melatih di The Orange County Badminton Club. Pasangan ini lalu berpisah pada 2009 karena Candra saat ini berduet dengan Joko Riyadi dan Tony tampil bersama sesama atlet AS, Howard Bach.
Inilah bulu tangkis yang membuat ratusan pemain dan pelatih hijrah dari negara asalnya demi mewujudkan obsesi dan cita-cita mereka. Indonesia, yang sejak 1960-an dikenal sebagai negara dengan prestasi mendunia, menyumbang banyak pemain dan pelatih yang kini membela negara lain. Atik dan Pi hanya sebagian dari mereka yang hijrah karena bulu tangkis. (sihc/skoc)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar